Sabtu, 14 November 2009

lanjutan BAB II

C. TRADISI SEJARAH MASYARAKAT INDONESIA
SETELAH MENGENAL AKSARA
Untuk memperdalam rasa cintamu pada tanah air, kerjakan kegiatan berikut ini secara
perseorangan! Coba cari olehmu cerita legenda atau mitos yang ada di daerahmu. Kamu boleh
bertanya kepada orang tuamu atau tetanggamu atau orang yang mengetahui hal itu lebih dalam.
Atau bila tidak ada, carilah cerita rakyat yang telah dikenal lalu rangkum pada kertas kosong! Atau
boleh pula kamu membuat laporan mengenai sebuah upacara tradisonal yang ada di Indonesia.
Carilah informasinya pada suratkabar, majalah dan internet. Setelah selesai, kumpulkan pada
gurumu!
Sebelum masyarakat mengenal sistem tulisan, masyarakat
Indonesia telah berhubungan dengan para pedagang asing,
terutama dari Cina Selatan dan India Selatan. Karena Kepulauan
Nusantara terletak di antara jalur pelayaran Cina-India maka para
pedagang yang pergi dari Cina ke India atau sebaliknya dipastikan
melewati perairan Indonesia. Selama pelayaran ini, para pedagang
asing menyempatkan diri singgah di tempat-tempat di Indonesia.
Persinggahan para pedagang asing tersebut dapat berlangsung
sementara atau untuk waktu yang cukup lama. Adakalanya mereka
singgah di pelabuhan-pelabuhan yang ramai didatangi para pelaut
dan pedagang lain, sekadar menawarkan barang dagangnya. Dan
adakalanya pula mereka mencari dan membuka lahan baru sebagai
tempat tinggal sementara sebelum melanjutkan pelayaran. Ingat,
pelayaran mereka sangat tergantung pada kondisi cuaca.
Kata Kunci
Prasejarah, sanskerta, pallawa,
suluk, syair.
Para pedagang dan pelaut asing yang berdiam relatif lama itu
pada akhirnya bersosialisasi dengan penduduk pribumi Nusantara.
Dengan demikian, terjadilah kontak budaya antara mereka
dengan orang-orang pribumi. Memang, pengaruh India dan Cina
terhadap kehidupan pribumi tidak sama. Ini terlihat dari segi politik.
Kita akan mengetahui bahwa ternyata orang-orang Indialah
yang banyak memainkan peran politik di awal-awal tarikh masehi
di Nusantara. Ini terlihat dari sistem pemerintahan kerajaan yang
diadopsi dari sistem di India.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para pakar,
bangsa Indonesia memasuki zaman sejarah sekitar abad ke-5
Masehi, yaitu dengan ditemukannya tujuh buah prasasti yang
berbentuk yupa di daerah Kutai, Kalimantan Timur. Pengaruh
India sangat kental dalam penemuan yupa tersebut yaitu terdapatnya
huruf Pallawa yang tertulis dalam yupa tersebut. Dari
sinilah kemudian tradisi sejarah pada masyarakat Indonesia mulai
terbentuk. Mereka mulai membuat catatan tertulis atau merekam
pengalaman hidup masyarakatnya. Berikut contoh beberapa rekaman
pengalaman masyarakat Indonesia yang berwujud prasasti
sebagai berikut:
1. Prasasti
a. Prasasti Kerajaan Kutai
Kerajaan Kutai terletak di sekitar aliran Sungai Mahakam, Kalimantan
Timur. Menurut bukti prasasti yang ditemukan, Kutai
merupakan kerajaan tertua di Indonesia. Prasasti Kutai itu berbentuk
tugu atau yupa yang berbahasa sanskerta dan huruf pallawa.
Dalam salah satu prasasti dinyatakan nama-nama raja seperti
Kudungga, Aswawarman, dan Mulawarman sebagai peringatan
upacara kurban. Dilihat dari bentuk tulisan pada yupa diduga
prasasti itu dibuat pada abad ke-5 Masehi.
Raja terkenal Kutai adalah Mulawarman, seperti diungkapkan
pada salah satu yupa berikut ini: ”Sang Maharaja Kudungga
yang amat mulia mempunyai putra yang masyur yang bernama
Aswawarman. (Dia) mempunyai tiga orang putra yang seperti api.
Yang terkemuka di antara ketiga putranya adalah sang Mulawarman,
raja yang besar, yang berbudi baik, kuat, dan kuasa, yang
telah upacara korban emas amat banyak dan untuk memperingati
upacara korban itulah tugu ini didirikan”.
Ia sering disamakan dengan Ansuman, yaitu Dewa Matahari.
Raja Mulawarman dikenal sangat dekat dengan rakyatnya. Ia
juga memiliki hubungan yang baik dengan kaum Brahmana yang
datang ke Kutai. Diceritakan bahwa Raja Mulawarman sangat
dermawan. Ia memberi sedekah segunung minyak dan lampu. Ia
juga memberikan hadiah 20.000 ekor lembu kepada Brahmana di
suatu tempat yang disebut Wafrakeswara. Wafrakeswara adalah
tempat suci untuk memuja Dewa Siwa. Dengan demikian, dapat
kita simpulkan bahwa Raja Mulawarman menganut agama Hindu
Siwa. Dari besarnya sedekah Raja Mulawarman ini memperlihatkan
keadaan masyarakat Kutai yang sangat makmur. Kemakmuran
ini didukung oleh peranan yang besar. Kerajaan Kutai dalam
pelayaran dan perdagangan dunia. Hal ini disebabkan karena letak
Kutai yang sangat strategis, yaitu berada dalam jalur perdagangan
utama Cina−India.
b. Prasasti Kerajaan Tarumanagara
Kerajaan Tarumanagara terletak di daerah Bogor, Jawa Barat.
Adanya kerajaan tertua di Pulau Jawa ini, didukung oleh beberapa
prasasti, seperti:
(1) Prasasti Ciaruteun/Ciampea (Bogor)
Prasasti Ciaruteun ditemukan di dekat muara Cisadane. Prasasti
itu ditulis pada sebuah batu besar disertai cap sepasang
telapak kaki. Terjemahan tulisan prasasti itu antara lain:
Ini bekas sebuah kaki yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki
Yang Mulia Purnawarman, raja negeri Taruma yang gagah berani
di dunia.
(2) Prasasti Kebon Kopi (Bogor)
Prasasti ini ditemukan di Cibungbulang, Bogor. Dalam
prasasti ini terdapat gambar dua telapak gajah yang disamakan
dengan telapak gajah Airawata (gajah kendaraan Dewa
Wisnu). Terjemahan tulisan prasasti itu antara lain:
Di sini tampak sepasang dua telapak kaki.... yang seperti Airawata,
gajah penguasa Taruma (yang) agung dan ... kejayaan.
Isi prasasti tidak dapat dibaca selengkapnya karena ada bagian
tulisan yang sudah usang.
(3) Prasasti Tugu (Cilincing, Jakarta)
Prasasti ini ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta Utara.
Prasasti ini merupakan prasasti Tarumanagara yang terpanjang
dan terpenting. Isinya antara lain tentang penggalian sebuah
saluran sepanjang 6112 tumbak (lebih kurang 11 Km), yang
bernama Gomati. Penggalian itu dilakukan pada tahun ke−22
pemerintahan Raja Purnawarman. Pekerjaan penggalian
diselesaikan dalam waktu 21 hari. Setelah selesai, diadakan
selamatan di mana raja memberikan hadiah 1000 ekor sapi
kepada para Brahmana.
Di samping itu, prasasti tugu menyebutkan penggalian sungai
bernama Candrabaga.
(4) Prasasti Muara Cianten (Bogor)
Prasasti ini ditulis dengan huruf ikal dan belum dapat dibaca.
(5) Prasasti Jambu (Leuwiliang)
Prasasti ini ditemukan di Bukit Koleangkak, termasuk perkebunan
Jambu, kira−kira 30 km sebelah barat Bogor. Prasasti
ini berisi sanjungan kebesaran, kegagahan, dan keberanian
Raja Purnawarman.
(6) Prasasti Lebak (Banten)
Prasasti Lebak ditemukan pada tahun 1947. Prasasti ini
hanya terdiri atas dua baris kalimat. Corak tulisan mirip
dengan tulisan pada prasasti Tugu. Isinya memuji kebesaran
dan keagungan Raja Purnawarman.
Sumber prasasti Tarumanagara dibuat dengan bahasa Sanskerta
dan huruf Pallawa. Dari salah satu prasasti diketahui diketahui
Raja terkenal dari Tarumanegara adalah Purnawarman.
Hal itu seperti diungkapkan dalam prasasti Ciaruteun, yaitu: ”Ini
Gambar 2.16 Prasasti Ciaruteun
yang berisi gambar dua telapak
kaki. Kedua telapak kaki
tersebut digambarkan sebagai
telapak kaki Raja Purnawarman
adalah dua tapak kaki Raja Purnawarman raja dari negeri Taruma,
raja yang gagah berani”. Purnawarman pun dikenal sebagai raja
yang memperhatikan masalah pertanian dan peternakan yang
diungkapkan dalam prasasti Tugu.
c. Kerajaan Sriwijaya
Prasasti-prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Sriwijaya antara
lain:
(1) Prasasti Kedukan Bukit
Isi Prasasti menyatakan bahwa Dapunta Hyang mengadakan
perjalanan suci (sidhayarta) dengan perahu dan membawa
2.000 orang. Dalam perjalanan tersebut, ia berhasil
menaklukkan beberapa daerah.
(2) Prasasti Talang Tuwo
Isi prasasti menyatakan pembuatan taman bernama Sriksetra.
Taman itu dibuat oleh Dapunta Hyang untuk kemakmuran
semua makhluk.
(3) Prasasti Telaga Batu
Isi prasasti menyatakan kutukan bagi rakyat yang melakukan
kejahatan dan tidak taat pada perintah raja.
(4) Prasasti Kota Kapur
Isi prasasti menyatakan usaha Kerajaan Sriwijaya untuk
menaklukkan Jawa yang tidak setia kepada Sriwijaya.
(5) Karang Berahi
Isi kedua prasasti menyatakan permintaan dewa agar menjaga
Kerajaan Sriwijaya dan menghukum setiap orang yang
bermaksud jahat.
Isi prasasti membawa kita pada kesimpulan sebagai berikut.
(a) Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan Telaga Batu yang
ditemukan di dekat Palembang menceritakan berdirinya Kerajaan
Sriwijaya pada tahun 683 M. Pusat kerajaan terletak
di dekat kota Palembang sekarang.
(b) Prasasti Kota Kapur dan Karang Berahi yang ditemukan di
Bangka dan Jambi menceritakan wilayah kekuasaan Sriwijaya
sampai ke Pulau Bangka dan Melayu.
Setelah prasasti di atas, sumber sejarah tentang Kerajaan
Sriwijaya dapat kita ketahui dari prasasti di Indo Cina dan India
serta catatan-catatan Cina dan Arab. Catatan dari Cina berasal
dari I Tsing, seorang rahib Buddha. Sedangkan catatan dari Arab
berasal dari Raihan Al-Beruni seorang ahli geografi dari Persia.
2. Karya Sastra
Selain prasasti yang telah dijelaskan di atas, bukti kebiasaan
tulisan yang dilakukan oleh raja-raja di kerajaan di Indonesia
Gambar 2.17 Naskah Bharatayudha
karya Mpu Sedah dan
Mpu Panuluh, tahun 1157 M
adalah ketika mereka mempunyai para penulis keraton atau para
pujangga yang bertugas mencatat beberapa peristiwa penting yang
berkaitan dengan kerajaannya. Misalnya, menyangkut sebuah
peristiwa penting yang menyangkut bidang sosial, ekonomi, politik
maupun keagamaan, serta pembuatan silsilah kerajaan dan
kebijakan-kebijakan raja.
Para pujangga istana menulis tentang hal-hal yang baik dan
positif saja dari seorang raja, bersifat istanasentris dan mempunyai
tujuan untuk menunjukan kelebihan, keistimewaan, dan
menjadi alat legitimasi dari seorang raja. Misalnya, ketika di
kerajaan Singosari Ken Arok membentuk wangsa Giridrawangsa
untuk memberikan pemahaman kepada rakyat bahwa dia adalah
keturunan dewa.
Pada awalnya karya sastra ini ditulis di atas daun lontar yang
bila rusak selalu diperbaiki. Sejalan dengan kemajuan teknologi
kemudian diubah menggunakan kertas. Karya sastra ini bisa
berbentuk puisi, kakawin, maupun prosa. Berikut karya sastra
yang dimaksud antara lain:
(a) Kitab Kakawin Bharatayudha, karya Mpu Sedah dan Mpu
Panuluh, pada masa pemerintahan Raja Jayabaya dari
Kediri. Kisah peperangan Pandawa dengan Kurawa yang
secara implisit menggambarkan perang antara Jenggala dan
Kediri.
(b) Kitab Kakawin Hariwangsa dan Gatotkacasraya, karya Mpu
Panuluh.
(c) Kitab Smaradhana, karya Mpu Dharmaja.
(d) Kitab Lubdaka dan Kitab Wrtasancaya, karya Mpu Tanakung.
(e) Kitab Kresnayana, karya Mpu Triguna.
(f) Kitab Pararaton, isinya sebagian besar mitos tentang riwayat
Ken Arok, Riwayat Raden Wijaya dan Kertanegara sampai
menjadi raja di Majapahit.
(g) Kitab Sundayana, yang mengisahkan terjadinya peristiwa Bubat,
yaitu perkawinan yang berubah menjadi pertempuran.
(h) Negarakretagama, yang dikarang oleh Mpu Prapanca, mengisahkan
perjalanan Hayam Wuruk ke daerah-daerah kekuasaan
Majapahit.
(i) Kitab Sutasoma, yang dikarang oleh Mpu Tantular, berisi
tentang riwayat Sutasoma, seorang anak raja yang menjadi
pendeta Budha. Dalam kitab ini tergambar adanya kerukunan
umat beragama di Majapahit antara umat Hindu dengan
umat Budha. Dalam kitab ini terdapat ungkapan Bhinneka
Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.
(j) Kitab Ranggalawe, yang menceritakan pemberontakan Ranggalawe.
peninggalan Kerajaan Sriwijaya
yang ditemukan di Bukit Seguntang,
Palembang.
(k) Kitab Sorandaka, yang menceritakan pemberontakan Sora.
(l) Kitab Usana Jawa, yang menceritakan penaklukan Bali oleh
Gajah Mada dan Arya Damar.
Sedangkan tradisi tulisan peninggalan kerajaan-kerajaan
Islam berupa karya sastra yang mendapat pengaruh dari Persia.
Namun pengaruh sastra Indonesia dan Hindu juga masih ada.
Pada masa itu muncullah hikayat, yaitu karya sastra yang kebanyakan
berisi dongeng belaka, ada pula yang berisi cerita sejarah;
di pulau Jawa disebut babad biasa di Jawa berupa puisi (tembang)
di luar Jawa bisa berbentuk syair atau prosa. Beberapa contoh
karya sastra antara lain:
(1) Cerita Panji
Mengisahkan perkawinan Panji Inu Kertapati, putra raja
Kahuripan dengan Galuh Candra Kirana, putri raja Daha.
Perkawinan berlangsung setelah berhasil mengatasi berbagai
kesulitan.
(2) Cerita Amir Hamzah
Mengisahkan permusuhan antara Amir Hamzah dengan
mertuanya, raja Nursewan dari Madayin, yang masih kafir.
(3) Hikayat Bayan Budiman
Mengisahkan burung nuri yang pandai cerita sehingga
Prabawati yang ditinggal suaminya, Madasena, berlayar
terhindar dari perbuatan serong.
(4) Hikayat Hang Tuah
Mengisahkan perkawinan Hang Tuah, abdi raja Malaka yang
setia, gagah berani, lagi bijaksana. Setelah mengundurkan
diri, kemudian Hang Tuah hidup sebagai pertapa dan hilang
secara gaib.
Hang Tuah adalah tokoh sejarah, yaitu laksamana armada
kerajaan Malaka waktu masa jayanya. Ia adalah prajurit
yang utama, berani serta pandai dan bijaksana, dan abdi sang
raja yang taat dan setia. Bisa dikatakan dalam segala hal ia
adalah wakil sang raja dan duta kerajaannya.
Berkali-kali namanya kita jumpai dalam Sejarah Melayu,
dan ia selalu dijadikan contoh teladan.
Dalam hikayat ini ia digambarkan sudah menjadi pahlawan
pada masa Gajah Mada (sekitar tahun 1350), mengenal
kerajaan Wijayanagara di India pada puncak kejayaannya
(sekitar tahun 1500) dan mengalami pula jatuhnya Malaka
pada tahun 1511, bahkan juga direbutnya Malaka oleh Belanda
pada tahun 1641!
Hang Tuah tidak meninggal melainkan gaib, setelah ia
mengundurkan diri dari hidup kemasyarakatan dan menjadi
petapa. Sebagai keramat ia masih sering kali menampakkan
diri kepada keturunannya. Demikianlah menurut ceritanya.
                                                                                                                      hal  7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar